Ibnu Qayyim Al-Jauziyah bertutur: ”Jika manusia tahu bahwa kematian mengehentikannya dalam beraktivitas, maka ia pasti akan melakukan perbuatan dalam hidupnya yang pahalanya terus mengalir setelah mati.” semoga catatan ini menjadi salah satunya ... bismillah by: www.familyonline-shop.com

Selasa, 04 September 2012

persiapan pernikahan ...


Sedikit ingin menceritakan tentang beberapa bekal sebelum menikah, yang saya peroleh tanggal 28 Mei 2011, hasil jalan-jalan ke rumah seorang ummi

Episode PRANIKAH,
·         Ketika akan menikah, pangkaslah egoisme kita terlebih dahulu, saat menikah (apalagi dengan orang yang sebelumnya tidak banyak berinteraksi dengan kita) mungkin saja banyak dari sifat2 pasangan kita yang tidak kita sukai, jadi bersiap-siaplah untuk menerimanya dengan ikhlas dan tidak mengedepankan ego kita.
·         Dan yang utama, LURUSKANlah niat dalam menikah, menikah untuk beribadah dalam rangka menggapai keridhaan Allah, bukan hanya sekedar “nafsu” semata. Bukan sekedar “status” yang akan berbeda. Tapi luruskanlah karena Allah. Hmm, saat sudah menikah banyak ladang pahala baru yang tidak bisa kita dapat sebelum kita menikah, jadi dari awal niatkanlah semuanya untuk beribadah.
·         Jangan lupa, keinginan menikah bukan sekedar “eforia” dari orang-orang yang sudah menikah, bukan sekedar “ikut-ikutan” karena setelah menikah banyak kewajiban dan tanggung jawab yang muncul, jadi persiapkan semuanya dengan baik.
·         Mengenai kriteria calon suami (karena saya perempuan, jadi ummi hanya membagi yang ini):
1.       Shalih dan berakhlak mulia
“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi)
Pastikan bahwa laki-laki tersebut sudah siap menikah, ketika ia siap, maka keluarganyapun siap, kesiapan disini tidak hanya kesiapan fisik atau materi, tapi juga dari segi keilmuannya, dan beliau juga sudah menyiapkan keluarganya (berhasilnya dakwah keluarga)
2.       Bukan dari golongan orang-orang yang fasik dan memutus hubungan kekeluargaan
3.       Laki-laki yang telah mampu mencukupi kebutuhan keluarga, istri tidak bertanggungjawab terhadap nafkah,
4.       Laki-laki yang bertanggungjawab  
kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)[. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya ,Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.(Qs Anisa:34)
5.       Laki-laki yang sehat dan bernasab baik
6.       Laki-laki yang bijaksana dan tidak mudah marah
“Dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan pada dirinya kebaikan yang banyak.” (QS : An-Nisa ayat 19)
7.       Laki-laki yang mampu mendidik istri
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang tidak mendurhakai malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkannNya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa perintahnya (At tahrim 6)
8.       Rajin bekerja dan berusaha, tidak menggantungkan diri terhadap orang lain

·         Hal-hal yang menghambat pernikahan
1.       Terlalu idealis
Jika ingin menikah dengan orang yang sempurna maka menikahlah dengan diri sendiri.
Ada nasehat yang baik dari Imam Syafii bila kita berharap pasangan yang sempurna, 'Jika kita membayangkan pasangan yang sempurna tetapi kita menikah dengan pasangan yang tidak sempurna dan kita berharap kesempurnaan, maka pilihannya hanya ada dua. Pertama, hapuskan saja bayangan kesempurnaan itu dan terimalah pasangan kita sebagaimana adanya atau campakkanlah pasangan anda dan terimalah bayangan kesempurnaan itu sebagai pasangan hidup anda.'

'Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir' (QS. Ruum :21).

Rizki Allah atau jodoh dari Allah tidak akan tertukar, tinggal bagaimana proses menggapainya, seperti dalam kisah yang pernah saya tuliskan sebelumnya disini :

Dahulu kala, ada sebuah kisah, seorang yang hendak membayarkan gaji pegawainya, ia ingin membayarnya setelah shalat di masjid hari itu, karena kebetulan sang pegawaipun sedang berada di masjid yang sama. tapi, setelah shalat usai, ia mencari-cari pegawainya dan ia sudah tidak ada, dalam hati ia tetap berniat membayarkan uang itu ke pegawainya, setelah keluar masjid, ia  mendapati tali kekang hewannya hilang. Dan ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke pasar. Di pasar ternyata ia menemukan seseorang tak dikenal menjual tali kekang hewannya yang hilang, ia berniat membelinya. dan ternyata harga tali kekang hewannya sama persis dengan jumlah uang yang hendak ia bayarkan ke pegawainya. usut punya usut ternyata yang mencuri tali kekang hewannya adalah sang pegawainya. Hmmm... seandainya saja sang pegawai bersabar sedikit saja hingga sang majikan selesai shalat,  ia akan memperoleh uang itu dengan cara yang halal dari sang majikan, tapi karena ia tidak bersabar ia mendapatinya dengan cara yang haram dan  ia berdosa karena itu. Dari kisah ini bisa di ambil kesimpulan bahwa, rizki tiap manusia sudah di tentukan oleh Allah, tinggal apakah kita bersabar shingga kita mendapatkan berkah, ataukah kita tidak bersabar sehingga menempuh jalan haram dan berdosa.
*lengkap kisahnya saya lupa, tapi inti cerita seperti di atas kurang lebih


Seperti  jodoh, Allah sudah menetapkan siapa yang akan menjadi jodoh kita. si A ataukah si B, entah mau lewat jalan pacaran dulu ataukah menempuh jalan yang lurus, tinggal apakah kita bersabar dan menempuh cara yang benar sehingga ridho Allah ada pada setiap proses hidup kita, ataukah kita tidak bersabar dengan kita berzina* dengannya sebelum menikah.
*dari zina tingkatan terendah hingga terberat.


Hmmm,  semoga kita menjadi pribadi yang selalu bersabar dan bersyukur atas segala ketetapan Allah.


Menikah mungkin terkadang seperti kematian, ada orang yang bahkan beberapa menit sebelum akad masih merasa belum siap, jadi tugas kita adalah menyiapkan banyak bekal untuk menjemput hari itu.

dan mungkin benar kata seorang ibu "100 kg teori akan kalah dengan 1 kg praktek" dan di "iya" kan oleh saudari saya yang sudah menikah di hari itu.

Ehm, semoga menjadi pribadi bijak untuk sebuah keputusan besar, tetaplah di jalan yang lurus, jalan yang Allah ridhoi.

2.       Tingginya mahar
Mahar dalam Islam adalah tanda cinta. Ia juga merupakan simbol penghormatan dan pengagungan perempuan yang disyariatkan Allah sebagai hadiah laki-laki terhadap perempuan yang dilamar ketika menginginkannya menjadi pendamping hidup sekaligus sebagai pengakuannya terhadap kemanusiaan dan kehormatannya.
“Berilah mereka mahar dengan penuh ketulusan. Tetapi jika mereka rela memberikan sebagian dari mahar, maka ambillah dengan cara yang halal dan baik.” (QS An Nisa’ ayat 4)
Dari Aisyah bahwa Rasulullah pernah bersabda “Sesungguhnya pernikahan yang paling berkah adalah pernikahan yang bermahar sedikit. ” (mukhtashar sunan Abu Daud)
Dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di antara tanda-tanda berkah perempuan adalah mudah dilamar, murah maharnya, dan murah rahimnya.” (HR. Ahmad)
Dari Abu Said Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW menikahi Aisyah dengan mahar alat-alat rumah tangga yang bernilai lima puluh dirham (HR Ibnu Majah)
Rasulullah SAW pernah menikahkan anak-anak perempuannya dengan mahar yang murah. Sebagian sahabat menikah dengan emas yang beratnya tidak seberapa dan sebagian lain menikah dengan mahar cincin dari besi. Rasulullah mengawinkan Fatimah dengan Ali dengan baju perang. Beliau juga pernah menikahkan seorang laki-laki dengan mahar mengajarkan 20 ayat Al Quran kepada calon istrinya.
3.       Beban pernikahan yang terlalu berlebihan
4.       Calon mertua
Jangan lupa ketika sudah menikah nanti, Surga suami kita ada di orang tuanya, sedangkan Surga istri ada di suaminya.
Kalo kata simbah yang saya temui ketika touring ke pati untuk menghadiri pernikahan seorang saudari dulu, bagi seorang istri ada istilah “suwargo nunut” ...
Tentu masih banyak hal lain yang perlu dipersiapkan, ini hanya sebagian saja, Semoga bermanfaat...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar